Galeri

Tren Batu Akik, Pengrajin di Gedangan Banjir Order


brt144626516CNN_RI,Sidoarjo – Lagi boomingnya batu akik akhir-akhir ini, membuat sejumlah pengrajin kebanjiran order. Salah satunya Agus Gondrong, pengrajin batu akik asal Jalan Raden Kanjeng Jimat Gang Anggrek Dusun Tengahan Desa Gedangan Kecamatan Gedangan, yang mengaku sangat kuwalahan menerima order dari penyuka batu akik di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya.

Tiap harinya, pembentukan batu akik yang mencapai 200 biji, hampir tidak tersisa. Pembentukan batu akik hingga penghalusan yang dikerjakan dari pesanan dan non pesanan, jadi buruan.

Aneka macam batu yang dikerjakan, masing-masing mempunyai peminat. Mulai batu akik jenis Bacan, Badar Besi, Emas, Lumut, aneka Batu Fosil, Miagad, Jasper, Kalcite Spine, Batu Kristal jenis Kecubung, Marbel Kalsedon dan ratusan macam batu lainnya.

Diakui Agus Gondrong, dirinya kuwalahan menerima order. Baik yang datang dengan membawa batu bongkahan sendiri maupun miliknya sendiri. “Hampir setiap hari batu-batu yang ada, laku,” syukurnya kepada wartawan, Minggu (22/2/2015).

Bahkan, lanjut dia, saking kuwalahannya, dirinya harus lembur bersama tiga anak buahnya untuk lembur menyeleseikan pesanan. “Sampai kadang lemburnya itu sampai subuh,” tukasnya.

Agus menadaskan, untuk penyuka batu akik jenis batu dan permata, saat ini hampir terjadi pada semua golongan, mulai abang becak, mahasiswa, pengusaha, profesional, aparat TNI dan Polri, PNS serta lainnya, semua suka batu akik. “Sekarang sepertinya, semuanya suka batu akik,” imbuhnya.

Menjadi pengrajin akik, sudah ditekuni sejak sekolah, sekitar tahun 80 an. Saat itu tidak booming seperti saat ini. Meski begitu, dia mensyukuri, menjadi pengrajin batu akik, bisa menopang perekonomian bersama keluarganya. “Alhamdulillah dan terus saya syukuri apa yang saya dapatkan,” puji pria kelahiran Pacitan itu.

Masih bapak tiga anak itu, kreatifitas dalam membentuk dan menghaluskan batu akik dan lainnya, juga ditularkan ke beberapa warga desa lainnya.

Agus bercerita punya teman kepala desa di Sedati. Beberapa warganya diajarinya menjadi pengrajin batu akik. Dari ketelatenan dan keseriusan lima warga luar desa itu, kini bisa menjadi bantuan penolong dalam menerima order.

“Masing-masing warga, saat ini bisa memproduksi batu akik antara 20 sampai 40 biji. Dari pesanan yang masuk, akhirnya saya bagi ke beberapa warga yang saya bina itu,” tandas Agus dengan senyum menyebut omsetnya setiap hari bisa ratusan ribu hingga jutaan.

Soal batu akik yang di produksinya, dirinya tidak mematok harga. Peminat yang suka, berani berapa. Jika menawarnya dirasa kurang cocok, dibilanginya belum boleh, sampai ada kesepakatan harga cocok. “Akadnya, peminat suka, berani harga, saya tidak rugi, insya Allah deal,” pungkasnya.(deny)

Komentar ditutup.