Galeri

Pasien BPJS Berniat Jual Tabung Elpiji untuk Beli Obat Anaknya


brt427646943CNN_RI,Surabaya – Malang benar nasib yang dialami oleh Vita Ridhani Yuniningsih (43). Hanya karena tidak mampu membeli obat-obatan yang dibutuhkan putri bungsunya bernama Chiquitita Adinda Putri Istiawan (2) dia sampai berniat menjual tabung gas elpijinya.

Niat ibu tiga anak yang akrab dipanggil Vita ini disampaikannya pada Daniel Lukas Rorong, Ketua “Komunitas Tolong-Menolong” (KTM) melalui SMS belum lama ini. Mendapati info seperti itu,  Daniel mencoba mengorek-orek permasalahan yang sebenarnya terjadi.

Tanpa butuh waktu yang lama, komunitas sosial yang bermarkas di Surabaya ini langsung merespon dengan membelikan obat-obatan dan vitamin yang dibutuhkan. Seperti Depakene, Locoid Scalp dan Prolacta DHA yang jika ditotal, harganya tidak sampai 400 ribu rupiah.

“Pihak kami langsung bergerak cepat untuk menolong apa yang menjadi kesulitan keluarga tak mampu ini,” kata Daniel.

Chiquitita Adinda Putri Istiawan (2), atau yang akrab dipanggil Dinda ini divonis menderita epilepsi sejak usianya masih menginjak 6 bulan. Otomatis, secara kontinu, Batita kelahiran 28 Mei 2012 ini harus mengkonsumsi Depakene untuk mengurangi kejang-kejang saat Epilepsinya kambuh sewaktu-waktu.

Nah, ketika stok Depakene-nya habis selama seminggu sejak pertengahan bulan ini, Dinda sering mengalami kejang-kejang, sehari bisa sampai tiga kali. Tentu saja, hal ini membuat Vita panik dan tidak tahu harus berbuat bagaimana. Sehingga, istri dari Heru Istiawan (41) ini sampai berniat menjual satu-satunya barang berharga miliknya yang tersisa yakni tabung gas elpiji Blue Gas 5,5kg beserta tungkunya.

Sedangkan untuk Locoid Scalp diperlukan untuk mengobati sejenis jamur (Tinea Barbae and Tinea Capitis) yang tumbuh di beberapa bagian di kulit kepalanya. Prolacta DHA Baby sendiri diperlukan untuk pemenuhan gizi Dinda yang termasuk terlambat pertumbuhan di usianya yang genap 3 tahun pada Mei mendatang.

“Sampai saat ini, anak saya hanya bisa mengucapkan kata mama saja. Dan berjalannya pun masih belum laiknya anak-anak seusianya,” ungkap Vita sambil menemani Dinda yang saat itu sedang asyik coret-coret memakai crayon di selembar kertas.

Penderitaan Dinda tak hanya itu saja. Batita yang suka main bola ini juga memiliki kelainan bentuk tulang pada telapak kakinya, khususnya kiri yang terlihat bengkok.

“Untuk itu, kami berniat untuk membantu membelikan sepatu khusus buat Dinda. Dan kami juga memenuhi kebutuhan Dinda yang lain seperti pampers, susu formula, perlengkapan mandi, dan lain sebagainya,” beber Daniel yang sudah menjadi relawan kemanusian sejak 2007 lalu ini.

Tak hanya Komunitas Tolong-Menolong, tapi Playgroup-Kindergarden “Citra Kusuma” juga langsung turun untuk membantu meringankan beban keluarga tak mampu yang kos di kamar petak berukuran 4×4 meter di kawasan Jalan Kutai, Surabaya, Rabu (25/2). Melibatkan perwakilan 3 siswanya, mereka memberikan donasi berupa uang tunai yang berasal dari infaq seluruh anak didiknya.

“Kami sengaja melibatkan anak didik kami untuk berempati pada sesama. Dan semoga apa yang kami berikan ini dapat membantu untuk pengobatan Dinda,” jelas Widyani Kusumayanti, S.Psi, Psikolog, Kepala Sekolah yang saat itu ditemani Chintia Adeliana Oktavianti, Wali Kelas Kindergarden B.

Pasien BPJS
Untuk diketahui, Dinda sendiri sebenarnya adalah pasien BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) umum kelas 1 dengan nomer kepesertaan 0001244551997 yang tiap bulannya membayar 59 ribu rupiah.

“Tapi saya tidak tahu, kenapa obat-obatan yang diperlukan anak saya tidak dicover saat saya berniat menebusnya di apotik salah satu rumah sakit di Surabaya setelah saya memeriksakan kondisinya,” ungkap Vita.

Untuk itu, dirinya berharap pihak BPJS bisa membantu dan merespon apa yang menjadi keluhannya ini.

“Meski tergolong tidak mampu, tapi saya sadar asuransi sehingga menyertakan anak saya di BPJS dengan harapan agar dapat dicover kesehatannya,” harap Vita yang pernah menjadi penyanyi di kafe dan hotel di Surabaya serta Bali ini.

Vita sendiri, sejak Dinda, putri bungsunya berusia 1 tahun, memutuskan untuk tidak bekerja dan fokus mengurus buah hatinya tersebut. Penghasilan suaminya yang bekerja di salah satu gudang besi di kawasan industri Rungkut, Surabaya dengan pendapatan 2 jutaan per bulan ini tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga untuk membantu perekonomian dan untuk pengobatan anaknya, Vita membuka lapak kecil di teras rumah ibunya yang letaknya tak jauh dari kos-kosannya dengan berjualan kopi dan mie instan. (cptong)

Komentar ditutup.