Galeri

KI AGENG TUNGGUL WULUNG (pelarian dari Majapahit)


Ki Ageng Tunggul Wulung adalah seorang keturunan dari Majapahit, saat pemerintahan Majapahit mulai surut. Banyak pangeran dan hulubalang yang meninggalkan kerajaan termasuk Ki Ageng Tunggul Wulung yang sebelumnya bernama Senopati Sabdojati Among Rogo. Pelarian mereka ada yang ke barat, sampai dengan Jawa Tengah pada masa sekarang, dank e timur hingga pulau Bali. Perjalanan Ki Ageng Tunggul Wulung menuju ke arah barat melewati pegunungan pegunungan di sisir pantai selatan (Gunung Kidul) dan masih terus menyusuri pantai hingga menemukan sebuah sungai besar (Progo).
Namun keadaan pantai masih sangatlah rawan untuk seorang pelarian, maka dengan berhati hati, mereka menyususri lambung pantai menuju ke hulu, melewati pegunungan pegunungan kecil yang terpetakan oleh musuh musuhnya pada jaman itu. Perjalanan yang tak kunjung henti, hanya Ki Ageng lah yang tahu kapan harus berhneti, dan itupun Bliau harus menggunakan segenap akal budi, perasaan dan hati. Hingga perjalanan samapi kie sebuah gundukan kecil, cukup rapat pohon pohon yang tumbuh dieskitasnya, dan cukup dekat pula dengan sungai Progo,tempat mereka mengambil air untuk keperluan sehari hari. Diputuskanlah tempat itu sebagai tempat perhentian terakhjir dan bermukim. Pada jaman dahulu daerah  itu terkenal dengan dusun Beji (Diro), yang ditempat itulah ia kemudian beliau mohon petunjuk Tuhan Yang Maha Esa tepatnya dibawah pohon Timoho di dekat Sungai Progo.
Sekarang daerah tersebut dikenal dengan Dusun Dukuhan Sendangagung Minggir. Ki Ageng Tunggul Wulung beserta isteri dan tujuh orang pengikutnya serta Nyai Dakiyah akhirnya Mokswa (hilang beserta raganya). Demikian pula kelangenan yang berupa: Burung Perkutut, Burung Gemak, Macan Gembong, Macan Kumbang, Macan Putih, Nogo Ijo, Nogo Hitam, beserta Ayam Jago Wiring Kuning. Tempat Mokswanya Ki Ageng Tunggul Wulung tersebut kemudian atas saran seorang warga negara Belanda kepada Nyai Kriyoleksono supaya dibuatkan nisan seperti layaknya makam, dan difahami masyarakat banyak sebagai tempat yang wingit (mempunyai daya magis) sehingga banyak yang berziarah di makam tersebut.
Sedangkan sejarah Tayuban adalah karena pada waktu itu ada seorang ledek (penari) bernama “Raden Nganten Sari Wanting” yang mempunyai niat mencari penglarisan melalui tirakat di komplek Makam Ki Ageng Tunggul Wulung. Akan tetapi kemudian ia hilang tidak diketahui rimbanya.
Hal tersebut dianggap masyarakat sekitarnya bahwa Ki Ageng Tunggul Wulung menyukai ledek. Pada perkembangan selanjutnya setiap acara bersih dusun diadakan kenduri selamatan baik di makam maupun di rumah Juru Kunci. Dilanjutkan dengan tayuban dengan iringan Gendhing “Sekar Gadhung” dan sang ledek menari tanpa diibing karena dianggap yang ngibing adalah Ki Ageng Tunggul Wulung.
Untuk memperingati dan melesatrikan budaya dan sejarah, maka pada perkembangan selanjutnya setiap Upacara Bersih Desa diadakan kenduri selamatan baik di makam maupun di rumah Juru Kunci yang kemudian dilanjutkan dengan tayuban dengan diiringi gendhing “Sekar Gadhung” dan sang ledhek menari tanpa diibing, karena menurut keyakinan yang ngibing adalah Ki Ageng Tunggul Wulung.
Upacara adat Tunggul Wulung atau Bersih Desa Sendang Agung dilaksanakan di lokasi “makam” Ki Ageng Tunggul Wulung, yaitu di Dusun Dukuhan XIII, Desa Sendang Agung, Kecamatan Minggir, Sleman. Selain itu, juga diadakan upacara di rumah Juru Kunci “makam” tersebut. Dalam kaitannya dengan prosesi upacara adat, sebenarnya ada juga tempat lain yang dapat disebutkan, yaitu Dusun Dero (Desa Sendang Agung, Minggir, Sleman) sebagai tempat awal sebelum dilakukan kirab menuju ke Dusun Dukuhan XIII.
Upacara adat secara umum dipimpin oleh Juru Kunci dalam hal penentuan waktu upacara, orang-orang yang terlibat, dan persiapan upacara. Khusus pemimpin kenduri, di makam, dipimpin oleh Juru Kunci dan di rumah Juru Kunci, dipimpin oleh Kaum atau Rois.
Adapun lokasi tempat komplek makan tersebut, cukup sejuk. Dengan pohon yang rapat, sawah membentang di sisi selatan, dan aliran sungai Progo yang nampak jelas dari pendopo. Angin sejuk dari pegunungan, suasana tenang, cukup baik untuk sekedar refreshing dan melepas penat.

3 responses to “KI AGENG TUNGGUL WULUNG (pelarian dari Majapahit)

  1. Ralat : Tertulis : kemudian 1 anak laki-laki Beliau bernama arso (yang bungsu) berada di Jiwan Madiun dan mungkin makanya di Jiwan Madiun. Yang benar : kemudian 1 anak laki-laki Beliau bernama Warso (yang bungsu) berada di Jiwan Madiun dan mungkin makamnya di Jiwan Madiun.

    • maaf mas bro qta dapat informasinya seperti itu jd klu mas bro punya informasi yg lbh menguatkan dan ada bukti berupa silsilah kami sangat berterimakasih klu panjenengane mau berbagi, thanks komennya n dukung trs kami

  2. • SEKILAS KISAH KI AGENG TUNGGUL WULUNG
    Menurut Kisah yang dimiliki Keturunan Beliau.
    Makam Ki Ageng Tunggul Wulung berada Dusun Dukuhan Sendang Agung Minggir Sleman.
    Berdasar sejarahnya, pada masa Kerajaan Majapahit Beliau sebagai Senopatai, Beliau keturunan penguasa Majapahit.
    Beliau pada masa Majapahit bergelar Senopati Sabdojati Among Rogo. Beliau dikenal sebagai sosok yang gagah berani dan merakyat serta diberi berkah kekuatan/kesaktian tenaga fisiknya oleh Allah Swt. Konon setelah Ki Ageng Tunggul Wulung bertempat tinggal dan menjadi warga Sendang Agung Minggir Sleman Yogyakarta, pada suatu waktu terjadi peperangan melawan pemberontak yang memberontak kepada pemerintahkerajaan (mungkin Kesultanan Mataram Islam/Keraton Yogyakarta Hadiningrat) waktu itu.
    Ki Ageng Tunggul Wulung Tampil sebagai Kesatria melawan Kaum Pemberontak tersebut dan ALHAMDULILLAHI RABBIL ‘AALAMIIN dalam peperangan tersebut pihak pasukan Kearton Yogyakarta yang dibantu Ki Ageng Tunggul Wulung memperoleh kemenangan dalam menumpas kaum pemberontak tersebut. Saat terjadinya peperangan tersebut bersamaan pula Isteri Beliau yang bernama Raden Ayu Gadung Mlati sedang hamil mengandung anak Beliau yang nomor 2 yang setelah lahir diberi nama Isma’il.
    Setelah selesai peperangan Ki Ageng Tunggul Wulung beserta keluarga dan masyarakat setempat menjalani kehidupan sebagaimana biasa dalam keadaan normal.Namun demikian, semua yang ada di muka bumi, yang ada di dunia ini semuanya adalah makhluq ciptaan Allah swt, semuanya tidak akan terlepas dari Kekuasaan dan kehendak Allah swt. Kesaktian apapun yang dimiliki manusia, bila manusia telah sampai ajalnya, maka manusia pasti meninggalkan kemewahan dan kesenangan hidup ini, Isteri dan anak-anak yang disayang dan dibanggakan pasti berpisah dan ditinggalkan, harta yang melimpah tidak akan dibawa mati. Ki Ageng Tunggul Wulung meninggal dunia seperti meninggalnya manusia pada umumnya (bukan mukswa). Beliau dipanggil oleh Allah swt untuk menghadap kehadirah Allah swt. Sebesar atau sekecil apapun amal shalih manusia, sebesar atau sekecil apapun jasa kebaikan atau keburukan manusia pasti tidak akan terlepas dari pertanggungjawaban dan akan akan memperoleh balasan di hadapan Allah swt sebagai satu-satunya hakim Yang Maha Adil, Yang Maha Besar dan Maha Bijaksana. Semoga Almarhum mendapatkan Ridha dan Rahmat Allah swt, aamiin yaa Rabbal’aalamiin. Demikian juga Istyeri Beliau yang bernama Raden Ayu Gadung Melati meninggalnya seperti meninggalnya manusia biasa (bukan mukswa).
    Dari versi Keturunan Ki Ageng Tunggul Wulung yang berada di Jawa Timur Ki Ageng Tunggul Wulung beranak 4 orang yaitu : 1. Juwa Iko (laki-laki); 2. Isma’il (laki-laki); Natu (perempuan); 4. Warso (laki-laki).
    Sepeninggal Ki Ageng Tunggul Wulung, ke empat anaknya bertempat tinggal di Ponorogo.
    Selanjut ketiga anak Beliau (Juwa Iko, Isma’il, Natu) akhirnya menetap di Desa Wanengpaten Gampengrejo Kediri Jawa Timur sampai dengan meninggal dunia dan dimakamkan disana.
    Juwa Iko memiliki anak diantaranya H. Mukthi yang kebetulan mendapatkan berkah sekaligus amanah dari Allah menjadi Kepala Desa Wanengpaten pada waktu itu, keturunan H. Mukthi sangat banyak di Wanengpaten Kecamatan Kediri yang selanjutnya menyebar/ada yang pindah menetap di berbagai daerah di Indonesia.
    Demikian juga Isma’il mendapatkan berkah sekaligus amanah dari Allah, diantara anaka Isma’il yang bernama H. Hasan yang kemudian bersama masyarakat Wanengpaten Gampengrejo Kediri mendirikan masjid dan Madrasah Ibtida’iyah, Pondok Pesantren di desa tersebut, sampai sekarang masih ada dan berfungsi. Masjid dan dan Madrasah Ibtidaiyah di Desa Wanengpaten tersebut bernama Miftahul Huda.
    Keturuan Isma’il bin Ki Ageng Tunggul Wulung sangat banyak di Wanengpaten Gampengrejo Kediri yang selanjutnya menyebar/ada yang pindah menetap di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan keturunan Isma’il ada waktu itu berada dan menetap di Singapura.
    Adapun Natu sampai ajalnya tidak memiliki keturunan karena tidak menikah. Adapun Warso akhirnya menetap di Jiwan Madiun Jawa Timur beserta keturunannya yang kemudian keturunannya juga ada yang menyebar di daerah lain di Indonesia.
    Sehingga sampai saat ini Keturunan Ki Ageng Tunggul Wulung ada yang di Kediri (Desa Wanengpaten Kec. Gampengrejo Kab. Kediri Jawa Timur), Nganjuk, Tulungagung, Banyuwangi, Surabaya, Madiun, Ponorogo, Magetan, Sleman, DIY, Lampung, DKI Jakarta, Kalimantan
    Walupun tidak mungkin dihindari adanya pepatah ibarat tak ada gading yang tak retak, tidak semua madu terjamin benar-benar murni, tidak perlu dimungkiri mungkin ada juga sebagian keturunan Ki Ageng Tunggul Wulung yang kurang sempurna/kurang baik sebagai manusia biasa.
    Demikian, sekilas kisah Ki Ageng Tunggul Wulung yang sangat singkat ini, Insya’ Allah akan ada penyempurnyaan yang lebih lengkap.
    Kisah ini ditulis bertujuan sekedar untuk memberikan masukan supaya tidak terjadi pengkultusan individu kepada Almarhum dan steri Beliau maupun Keturunan Beliau, dana supaya Keturunan Beliau tidak bersikap bangga dengan mengetahui bahwa dirinya adalah Keturunan Ki Ageng Tunggul Wulung, Manusia itu sebaiknya bersikah sedetrhana dan bersyukur kepada Allah swt atas apapun dan berapapun nikmat yang telah diberikan oleh Allah swt kepadanya.
    Al Marhum Ki Ageng Tunggul Wulung dan Isterinya tidak perlu dikultuskan, dilebih-lebihkan, supaya bersikap biasa saja dalam menghormati jasa siapapun, yang bisa diambil dari seseorang baik yang masih hidup/sudah meninggal dunia adalah mengambil sisi yang baik yang benar saja untuk diajadi cermin generasi penerusnya atau kita yang ada pada saat ini.
    Silakan dikoreksi, diperbaiki, disempurnakan, DAN MINTA MAAF ATAS KEKELIRUAN DALAM TULISAN INI.
    Ditulis oleh : Muhyiddin Anwar.
    Cp. 085840146785.
    Suka •
    o Muhan Ahmad Baniwardoyo menyukai ini.
    o
    Muhan Ahmad Baniwardoyo Ralat: Tertulis: keturunan H. Mukthi sangat banyak di Wanengpaten Kecamatan Kediri yang selanjutnya menyebar/ada yang pindah menetap di berbagai daerah di Indonesia. Yang benar: keturunan H. Mukthi sangat banyak di Desa Wanengpaten Kecamatan Gampengrejo…Lihat Selengkapnya
    13 Juni pukul 12:04 • Suka • 2
    o